Perkembangan Bioteknologi dalam Bidang Pangan melalui Rekayasa Genetik: Manfaat dan Potensi Risiko
DOI:
https://doi.org/10.62084/ijsph.v3i2.45Keywords:
Bioteknologi, DNA, Fermentasi, Rekayasa genetik, PanganAbstract
Rekayasa genetik pangan merupakan salah satu perkembangan teknologi dalam bidang pertanian dan pangan yang memiliki berbagai manfaat, tetapi juga menimbulkan kontroversi di masyarakat. Genetic Engineering (rekayasa genetika) merupakan teknologi yang memungkinkan modifikasi materi genetik pada tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme untuk menghasilkan karakteristik tertentu sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Praktik perubahan sifat tanaman sebenarnya telah dilakukan manusia sejak dahulu melalui pemuliaan tanaman secara konvensional. Namun, perkembangan bioteknologi modern memungkinkan perubahan gen dilakukan secara lebih spesifik dan terarah. Saat ini, beberapa bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat berasal dari organisme hasil rekayasa genetika atau mengandung bahan yang telah mengalami modifikasi genetik. Teknologi tersebut berpotensi memberikan manfaat, seperti meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, serta menghasilkan tanaman dengan kandungan gizi tertentu. Meskipun demikian, penerapannya tetap perlu memperhatikan berbagai kemungkinan risiko. Beberapa potensi risiko rekayasa genetik pangan antara lain perubahan kandungan atau kualitas gizi, potensi toksisitas, kemungkinan munculnya resistensi terhadap antibiotik, serta potensi alergenitas. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan, termasuk kemungkinan efek karsinogenik, meskipun hal tersebut perlu dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Dari aspek lingkungan, risiko yang perlu diperhatikan meliputi pencemaran genetik, transfer gen ke tanaman liar, gangguan terhadap keanekaragaman hayati, dan kemungkinan munculnya organisme yang tidak diharapkan. Di samping aspek kesehatan dan lingkungan, rekayasa genetik pangan juga menimbulkan perdebatan terkait agama, budaya, etika, serta penerimaan masyarakat.
References
Alliance for Better Foods. Improving Agriculture through Biotechnology: Health and Nutritional Benefits of Food Biotechnology. 1999 Website: www.betterfoods.org/.
Bevan MW, Flavell RB, Chilton MD. 1983. A chimaeric antibiotic resistant gene as a selectable marker for plant cell transformation. Nature. 304:184– 7.
BIO. Member survey. Biotechnology Industry Organization. 1998. Web site: www.BIO.org.
Brown KS. 1996. Prescription: one plant please. Bioscience. 46(2):82.
Burgess C, O‘connell-Motherway M, Sybesma W, Hugenholtz J, van Sinderen D. 2004. Riboflavin production in Lactococcus lactis: potential for in situ production of vitamin-enriched foods. Appl. Environ. Microbiol. 70:5769-
Campbell POQ. 1996. Super foods agricultural product and genetic
engineering.Biology Digest 1(23) : 10-7
Clinton SK. 1998. Lycopene: chemistry, biology, and implications for human health
and disease. Nutr.Rev. 56:35–51.
Champagne CP, Tompkins TA, Buckley ND, Green- Johnson JM. 2010. Effect of
fermentation by pure and mixed cultures of Streptococcus thermophilus and
Lactobacillus helveticus on isoflavone and B-vitamin content of a fermented
soy beverage. Food Microbiol. 27:968-972.
De Vos WM. 1999. Food biotechnology frontiers of food functionality. Current
Oppinion in Biotechnology. 10:483-484.
Dyer O. 1996. Sheep cloned by nuclear transfer. Br.
Gray SN. 1998. Fungi as potential bioremediation agents in soil contaminated with
heavy or radioactive metals. Biochem. Soc. Trans. 26(4) :666–70.
Guzel-Seydim ZB, Kok-Tas T, Greene AK, Seydim AC. 2011. Review: functional
properties of kefir. Crit. Rev. Food Sci. Nutr. 51:261-268.
Habibi-Najafi MB. 2006. Food biotechnology and its impact on our food supply.
Global Journal of Biotechnology &Biochemistry. 1(1):22-27.
Hinchee MAW, Connor-Ward DV, Newell CA, McDonnel RE, Sato SJ, Gasser CS,
Fischhoff DA, Re DB, Fraley RT, Horsch RB. 1988. Production of transgenic
soybean plants during Agrobacterium-mediated DNA transfer. Bio/
Technology. 53(5):50–3
Hoef AM, Kok EJ, Bowo E, Kuiper HA, Keijer J. 1998. Development and
application of a selectivedetection method for genetically
Kwak CS, Lee MS, Lee HJ, Whang JY, Park SC. 2010. Dietary source of
vitamin B12 intake and vitamin B12 status in female elderly Korean s
aged 85 years and older living in rural area. Nutr. Res. Pract. 4:229-234.
Lesney MS. 1999. The Garden of Dr. Moreau: plant biotechnology as a
chemical enterprise. Genetically modified foods are the fore-runners
of designer chemical plants. Todays Chemist at Work. 8(6):28–33.
Liu K. 1999. Biotech crops: products, properties and prospects. Food
Technology. 53(5):42–9.
Losey JE, Rayor LS, Carter ME. 1999. Transgenic pollen harms monarch
larvae. Nature. 399:214.
McMillan M, Thompson JC. 1979. An outbreak of suspected solanine
poisoning in school boys: examinations of criteria of solanine
poisoning. Q.J. Med. 48:227–43.
Nielsen IL, Chee WS, Poulsen L, Offord-Cavin E, Rasmussen SE,
Frederiksen H, Enslen M, Barron D, Horcadaja MN, Williamson G.
Bioavailability is improved by enzymatic modification of the
citrus flavonoid hesperidin in humans: arandomized, doubleblind,
crossover trial. J. Nutrition. 136:404-408.
Phillips SC. 1994. Genetically engineered foods: do they pose health and
environmental hazards?CQ Researcher. 4(29):673–96.
Robinson C. 1997. Genetically modified foods and consumer choice.
Trends in Food Science and Technol. 8:84–8.
Rudnitsky H. 1996. Another agricultural revolution: genetically altered seeds hold
great promise for seed companies and for the fast growing world population.
Forbes Magazine. 157(10):159.
Sloan AE. 1999. The new market: foods for the not-so- healthy. Food Technol.
(2):54–60.
Downloads
Published
Issue
Section
How to Cite
Similar Articles
- Nita Magfirah Ilyas, Inna Raehana Ruad, Analisis Peranan Mikroorganisme dalam Proses Bioteknologi Produk Susu: Tinjauan pada Keju, Yogurt, dan Yakult , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 3 No. 1 (2026): Januari - April 2026
- Nita Magfirah Ilyas, Adestia Tangke Padang, Perbandingan Organoleptik Kimchi Sawi Putih (Brassica rapa subsp. pekinensis) dengan Variasi Substrat: Tepung Ketan (Oryza sativa glutinosa) dengan Buah Pir (Pyrus communis) dan Kentang (Solanum tuberosum) , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 3 No. 1 (2026): Januari - April 2026
- Inna Raehna, Pemanfaatan Tepung Mocaf dan Biji Chia dalam Pembuatan Cookies Bebas Gluten , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 3 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
- Adestia Tangke Padang, Pemanfaatan Sereal Biji Nangka sebagai Alternatif Sarapan , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 3 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
- Nur Rezky Imzahkiah, CUMOMI : PERMEN JELLY GELATIN CUCURBITA MOSCHATA & CINNAMOMUM sebagai Pencegah Kanker Lambung pada Anak , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 3 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
- Muh Ilham, Nita Magfirah Ilyas, Perbandingan Sifat Organoleptik Tape Singkong (Manihot Esculenta) dan Tape Ketan Hitam (Oryza Sativa L.Var. Glutinosa) yang dibuat dari Berbagai Jenis Ragi , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 2 No. 3 (2025): September - Desember 2025
- afifah, Analisis Kandungan Antioksidan dan Serat pada Produk Cookies dengan Substitusi Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 3 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
- Halimah Husain, Selvi Ramadani, Nita Magfirah Ilyas, Literature Review: Analisis Faktor Penyebab Penyakit Degeneratif (Diabetes Mellitus) pada Metabolisme Karbohidrat , Indonesian Journal of Science and Public Health: Vol. 2 No. 2 (2025): Mei - Agustus 2025
You may also start an advanced similarity search for this article.



